Topic
Mon,19 August 2013 | Dibaca oleh Pengunjung

Indonesia Diambang Empat Devisit

JAKARTA, FAJAR -- Tokoh Oposisi Rizal Ramli, mengungkapkan, Indonesia yang kini dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berada diambang empat devisit yang akan terjadi sekaligus, jika tidak diantisipasi dengan perencanaan yang proporsional.

Empat devisit itu, yakni devisit perdagangan sekitar USD 6 miliar, devisi transaksi berjalan USD 6 miliar, devisit neraca pembayaran sebesar USD 6,3 miliar sampai USD 6,5 miliar. Dan devisit anggaran yang diprediksi lebih besar lagi.

Devisit itu terjadi dikarenakan oleh penerimaan pajak tidak memenuhi target. Selain itu juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang anjlok di atas angka 10 ribu per Dolar Amerika. “Maka APBN akan jebol,” tandas Rizal Ramli kepada Fajar Media Center, di Jakarta, Senin (19/8).

Dia menegaskan, ini adalah lampu kuning bagi SBY untuk membenahi ekonomi Indonesia. Jika tidak Indonesia akan masuk pada krisis yang membahayakan perekonomian bangsa jika ada gejolak ekonomi di dunia.

Sayangnya menurut Rizal, dalam pidato kenegaraan SBY pada 16 Agustus kemarin, sama sekali tidak menynggung soal ancaman besar ini. Mestinya, pidato SBY lebih merespon dan memberitahukan langkah-langkah pemerintah dalam menghadapi ancaman ini.

Karena kata dia, kondisi ekonomi sekarang tidak sama dengan kondisi ekonomi tahun 2008. Yang mana lebih stabil dari biasanya. Sekarang saja, banyak investor yang tidak lagi melihat Indonesia sebagai prioritas untuk berivestasi.

“Maka itu sangat disayangkan, isi pidato SBY seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Seakan-akan ekonomi Indonesia berada dalam masa aman. Ekonomi Indonesia sedang goyang. Maka itu saat bursa efek dibuka tadi pagi, rupiah anjlok di lebih dari Rp 10 ribu per dolar. Ini adalah lampu kuning,” tandas Rizal.

Dia mengatakan, belum lagi jatuh tempo pembayaran utang luar negeri sebanyak USD 27 miliar di ambang pintu. Yakni pada September mendatang. Dia memprediksi, tekanan pada rupiah akan terus berlanjut.

Sehingga dikhawatirkan rupiah akan anjlok sebagaimana tahun 1998-1999 dulu. Hal ini sangat membahayakan ekonomi bangsa. Sekarang, Indonesia termasuk negara importir.

Seakan-akan segala sesuatu tidak bisa diadakan di dalam negeri. “Sebagian besar makanan juga diimpor. Saya tegaskan, bahwa jika rupiah kembali mendapat
tekanan, maka harga akan kembali naik. Ingat pada saat kenaiakan BBM beberapa waktu lalu, semua harga naik sebanyak dua kali, dan tidak turun lagi. Kita berada dalam bahaya,” tandasnya. (fik/fmc)

banner